Kepastian Mengenai Jalan Kelepasan dari Dosa

Study By: J. Hampton Keathley, III 

    Pendahuluan

Banyak pertanyaan muncul mengenai permasalahan dosa dalam kehidupan orang percaya. Mengapa saya sebagai orang percaya masih berbuat dosa? Apa yang harus saya lakukan? Bagaimana saya bisa memperoleh pengampunan atas dosa saya? Bagaimana saya dapat mengatasi dan menaklukkan sifat-sifat lama saya? Orang percaya akan diperhadapkan dengan dilemma (permasalahan) seperti yang dinyatakan dalam Roma 7:15-18 dan Galatia 5:17. Itulah sebabnya orang-orang Kristen masa kini perlu arahan dan petunjuk Kitab Suci dalam menghadapi permasalahan ini.
Roma 7:15-18 Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat. Jadi jika aku perbuat apa yang tidak aku kehendaki, aku menyetujui, bahwa hukum Taurat itu baik. Kalau demikian bukan aku lagi yang memperbuatnya, tetapi dosa yang ada di dalam aku. Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik.
Galatia 5:17 Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging--karena keduanya bertentangan--sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki.

    Definisi Dosa

Dosa adalah segala sesuatu yang tidak sesuai atau mencapai standar (sasaran) yang telah ditetapkan Allah. Segala hal yang tidak sesuai dengan hukum moral Allah dalam bentuk tindakan, perbuatan atau keadaan adalah dosa. Singkatnya, setiap hal yang bertentangan dengan karakter Allah yang kudus adalah dosa.7

    Kategori-Kategori Dosa

Ayat-ayat Kunci:
Amsal 6:16-19 Enam perkara ini yang dibenci TUHAN, bahkan, tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hati-Nya: mata sombong, lidah dusta, tangan yang menumpahkan darah orang yang tidak bersalah, hati yang membuat rencana-rencana yang jahat, kaki yang segera lari menuju kejahatan, seorang saksi dusta yang menyembur-nyemburkan kebohongan dan yang menimbulkan pertengkaran saudara.
Efesus 5:19-22 dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati. Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus. Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan.
Untuk dapat lebih mendalami sifat dosa itu, kita dapat mengelompokkan dosa itu ke dalam empat kategori:

      Tidak Menghargai Kasih Karunia Allah

Tidak menghargai kasih karunia Allah berarti sengaja melalaikan atau menyia-nyiakan kasih karunia Allah dengan selalu berusaha mengandalkan kekuatan diri sendiri dalam menghadapi setiap hal. Termasuk dalamnya adalah melalaikan Firman Allah, tak mau bersekutu untuk mendapatkan kekuatan rohani, dan tak mau berdoa atau membawa setiap kebutuhan kita kepadaNya.

Ibrani 12:15 Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang.

Yesaya 50:11 Sesungguhnya, kamu semua yang menyalakan api dan yang memasang panah-panah api, masuklah ke dalam nyala apimu, dan ke tengah-tengah panah-panah api yang telah kamu pasang! Oleh tangan-Kulah hal itu akan terjadi atasmu; kamu akan berbaring di tempat siksaan.

Yeremia 2:13 Sebab dua kali umat-Ku berbuat jahat: mereka meninggalkan Aku, sumber air yang hidup, untuk menggali kolam bagi mereka sendiri, yakni kolam yang bocor, yang tidak dapat menahan air.

Yeremia 17:5 Beginilah firman TUHAN: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!
Pada hakekatnya sikap tak menghargai atau menyia-nyiakan kasih karunia Allah adalah berusaha menjalani kehidupan ini dengan mengandalkan kemampuan, kekuatan dan kepintaran sendiri tanpa mau berserah kepada kekuatan dan kuasa Allah.

Ibrani 4:16 Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.

Ibrani 10:25 Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.

Galatia 5:5 Sebab oleh Roh, dan karena iman, kita menantikan kebenaran yang kita harapkan.

Galatia 5:16 Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging.

Efesus 6:10-18 Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya. Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang kudus.

      Dosa-Dosa Pikiran atau yang berkenaan dengan Sikap

Dosa-dosa ini termasuk kepahitan, kebencian, kekuatiran, iri, tamak, dengki, selalu tak merasa puas dan kebencian.

Galatia 5:19-21 Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu--seperti yang telah kubuat dahulu--bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.

Matius 15:19 Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.

      Dosa-Dosa yang berkenaan dengan Lidah

Dosa-dosa lidah termasuk berbohong, bersaksi dusta, fitnah, berkata kotor, gosip, menyebar permusuhan (provokator) dan luapan amarah.

Amsal 6:17-19 mata sombong, lidah dusta, tangan yang menumpahkan darah orang yang tidak bersalah, hati yang membuat rencana-rencana yang jahat, kaki yang segera lari menuju kejahatan, seorang saksi dusta yang menyembur-nyemburkan kebohongan dan yang menimbulkan pertengkaran saudara.

Matius 15:19 Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.

Efesus 5:4 Demikian juga perkataan yang kotor, yang kosong atau yang sembrono--karena hal-hal ini tidak pantas--tetapi sebaliknya ucapkanlah syukur.

Efesus 4:29 Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.

      Dosa-Dosa yang berkenaan dengan Perbuatan

Termasuk dalam kategori ini adalah perbuatan amoral (zinah, percabulan), mencuri, menipu, membunuh, dan merampok.

Matius 15:19 Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.

Galatia 5:19-21 Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu--seperti yang telah kubuat dahulu--bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.

Dalam upaya memahami keempat kategori dosa ini, penting sekali kita menyorotinya dari perspektif hubungan sebab akibat atau akar/buah busuk. Setiap perbuatan dosa pasti ada akar permasalahannya. Tuhan Yesus berbicara tentang hal ini dalam ayat-ayat:

Matius 12:34-37 Hai kamu keturunan ular beludak, bagaimanakah kamu dapat mengucapkan hal-hal yang baik, sedangkan kamu sendiri jahat? Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati. Orang yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik dari perbendaharaannya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan hal-hal yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum.

Matius 15:18-19 Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.

Apa yang keluar dari mulut kita mencerminkan atau menggambarkan apa yang ada dalam hati. Dalam Alkitab, hati itu menggambarkan keadaan batiniah seseorang, termasuk di dalamnya adalah pikiran, perasaan dan kehendak orang itu. Apabila kita memikirkan atau merancang-rancang hal-hal yang jahat, yang tidak sesuai dengan pikiran Kristus, pasti itulah yang akan keluar dari mulut kita. Dosa-dosa lidah merupakan produk dosa-dosa dalam hati atau dosa-dosa mental seseorang. Apabila kita menyimpan pikiran-pikiran jahat seperti dengki, iri, amarah ataupun ketakutan, ini akan membuahkan memfitnah orang lain, menyombongkan diri, berupaya menjatuhkan orang lain dengan berbagai cara licik, seperti melancarkan kritik-kritik negatif dan menyebar gosip atau mengeluarkan kata-kata yang tidak mencerminkan iman, kasih dan pengharapan.

Namun pikiran-pikiran jahat inipun memiliki akar atau sumbernya. Dalam Matius 15:19 “pikiran jahat” didaftarkan bersama dengan membunuh, berzinah, percabulan, mencuri, berdusta, dan fitnah. Memang dosa-dosa tersebut bersumber dari pikiran jahat, tetapi dari manakah pikiran jahat itu bersumber? Perhatikan dalam Matius 12:34-35, Tuhan Yesus melukiskan apa yang ada dalam hati seseorang ibarat perbendaharaan harta. Perbendaharaan harta itu bisa baik atau jahat. Harta tentu saja adalah sesuatu yang kita sangat hargai, mengapa? Karena dengan harta kita dapat membeli apa saja yang kita inginkan atau yang kita anggap menjadi kebutuhan kita.

Saya ingin menegaskan di sini bahwa pikiran jahat itu bersumber pada kepercayaan-kepercayaan yang keliru atau kebohongan-kebohongan (dusta) yang kita percayai. Misalnya, apabila kita iri atau menginginkan milik orang lain, seebnarnya kita menaruh pemikiran atau kepercayaan yang keliru bahwa dengan mendapatkan milik orang lain itu, kita akan menjadi senang atau bahagia. Bila kita menaruh pemikiran semacam itu berarti kita telah mempercayai kebohongan (dusta) yang disodorkan oleh Setan dan dunia ini, bahwa kebahagiaan itu dengan sendirinya akan datang bila kita memiliki harta atau kekayaan yang banyak, apakah itu dalam bentuk popularitas, plesir, jabatan, kepintaran atau hal-hal material.

Aplikasi sederhana dari pelajaran ini adalah bahwa dalam menghadapi dosa dalam kehidupan kita, kita harus belajar melihat apa yang ada dibalik sesuatu perbuatan dosa, yakni langsung kepada akar permasalahannya. Jika tidak, maka kita tak akan pernah mengalami perubahan yang sejati dan abadi, yang sebenarnya harus terjadi atau terbentuk di dalam bagian yang paling dalam, yakni dalam batin atau hati seseorang. Ini tentu saja hanya bisa terjadi melalui iman. Kita akan membahasnya lebih lanjut dan lebih mendalam, dalam pelajaran-pelajaran berikut.

    Jalan Keampunan Dosa

Ayat-ayat Kunci:
1 Yohanes 1:8-10 Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita.

Roma 8:31-34 Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia? Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka? Siapakah yang akan menghukum mereka? Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita?

Yohanes 13:1-10 Sementara itu sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu, bahwa saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa. Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya. Mereka sedang makan bersama, dan Iblis telah membisikkan rencana dalam hati Yudas Iskariot, anak Simon, untuk mengkhianati Dia. Yesus tahu, bahwa Bapa-Nya telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan bahwa Ia datang dari Allah dan kembali kepada Allah. Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya, kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu. Maka sampailah Ia kepada Simon Petrus. Kata Petrus kepada-Nya: "Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?" Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak." Kata Petrus kepada-Nya: "Engkau tidak akan membasuh kakiku sampai selama-lamanya." Jawab Yesus: "Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku." Kata Simon Petrus kepada-Nya: "Tuhan, jangan hanya kakiku saja, tetapi juga tangan dan kepalaku!" Kata Yesus kepadanya: "Barangsiapa telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain membasuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya. Juga kamu sudah bersih, hanya tidak semua."

Mazmur 32:1-5 Dari Daud. Nyanyian pengajaran. Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi! Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN, dan yang tidak berjiwa penipu! Selama aku berdiam diri, tulang-tulangku menjadi lesu karena aku mengeluh sepanjang hari; sebab siang malam tangan-Mu menekan aku dengan berat, sumsumku menjadi kering, seperti oleh teriknya musim panas. Sela Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: "Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku," dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku. Sela.

Mazmur 51:1-13 Untuk pemimpin biduan. Mazmur dari Daud, ketika nabi Natan datang kepadanya setelah ia menghampiri Batsyeba. Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar! Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku! Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku. Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat, supaya ternyata Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu. Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku. Sesungguhnya, Engkau berkenan akan kebenaran dalam batin, dan dengan diam-diam Engkau memberitahukan hikmat kepadaku. Bersihkanlah aku dari pada dosaku dengan hisop, maka aku menjadi tahir, basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju! Biarlah aku mendengar kegirangan dan sukacita, biarlah tulang yang Kauremukkan bersorak-sorak kembali! Sembunyikanlah wajah-Mu terhadap dosaku, hapuskanlah segala kesalahanku! Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh! Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku! Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu, dan lengkapilah aku dengan roh yang rela! Maka aku akan mengajarkan jalan-Mu kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran, supaya orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu.

Keselamatan dalam Kristus memberikan dan menjamin jalan kemenangan atas dosa, namun hal itu tidak membebaskan kita dari godaan berbuat dosa. Setiap orang percaya harus berusaha (a) agar tidak berbuat dosa (1 Yohanes 2:1), dan (b) menjauhkan pemikiran boleh terus hidup dalam dosa agar kasih karunia semakin nyata dalam kehidupannya (Rom. 6:1dst.). Namun sebagai manusia biasa, kita tak lepas dari dosa selama kita masih dalam dunia ini. Ini dijelaskan dalam 1 Yohanes 1:8-2:2.

Jika demikian, apakah jalan kelepasan yang telah disediakan Allah ketika kita berbuat dosa? Untuk mendapatkan jawabannya, coba simak ayat-ayat dibawah ini:

1 Yohanes 1:8-2:2 Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita. Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil. Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia.

Roma 6:1-8 Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya? Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru. Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya. Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa. Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa. Jadi jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya, bahwa kita akan hidup juga dengan Dia.

    Janiji Keampunan Melalui Pengakuan

I Yohanes 1:8-10 mengajak kita untuk memperhatikan tiga aspek dalam pengakuan dosa: (a) Pengakuan akan adanya prinsip dosa; (b) pengakuan dosa-dosa khusus atau dosa-dosa tertentu; dan (c) pengakuan akan adanya perbuatan dosa. Ketiga aspek ini akan dibahas di bawah ini.
Karena kata kunci di sini adalah pengakuan, pertanyaan yang muncul adalah apakah arti mengakuii dosa? Istilah Yunani untuk mengaku dalam 1 Yohanes 1:9 adalah homologeo yang berarti “berbicara bahasa yang sama,” “mengakui, setuju dengan.” Kata ini berasal dari homologos, yang berarti “berpikir sama.” Jadi mengaku dosa dalam ayat ini berarti kita setuju dengan pikiran Allah dan FirmanNya mengenai dosa itu. Mari kita simak dua hal mengenai maknanya:

(1) Pengakuan merupakan keharusan memandang dosa itu menurut keadaannya yang sebenarnya. Dosa itu selalu mencelakakan kita dan orang-orang lain. Dosa itu selalu mempermalukan Allah. Dosa itu selalu jelek dan buruk. Dosa itu bukan hanya membutuhkan pengampunan Allah untuk pemulihan persekutuan orang percaya melainkan juga perlu dibuang jauh-jauh dari kehidupan kita dengan pertolonganNya. Kita tak boleh bersikap meringankan atau pandang enteng terhadap dosa. Kita harus membenci dosa sebagaimana Allah memandangnya sebagai sesuatu yang keji dan jijik.
Amsal 28:13-14 Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat. Padaku ada nasihat dan pertimbangan, akulah pengertian, padakulah kekuatan.

(2) Pengakuan menuntut kejujuran dari pihak kita terhadap dosa itu. Kita sering cenderung mau menghindar dari realita dosa yang kita perbuat. Kita selalu berusaha berdalih, menyangkalinya, atau menyalahkan orang lain seperti yang diperbuat Adam dan Hawa ketika diperhadapkan dengan pelanggaran mereka dalam Kejadian 3:7-13.
Kecenderungan manusia sejak mulanya untuk berdalih atau melemparkan kesalahannya diperjelas dalam dalam 1Yohanes 1:6-10 dengan kata “jika” yang disebutkan lima kali. Perhatikan ketiga hal dalam 1 Yohanes 1:8-10 yang perlu diakui. Dua dari antaranya dikemukakan sebagai pernyataan palsu melalui perkataan “Jika kita mengatakan” (ayat 8 dan 10). Namun ingat bahwa lawan atau kebalikan dari pernyataan palsu adalah pengakuan yang jujur mengenai dosa kita. Inilah yang dituntut Allah dari pihak kita.

      Pengakuan akan adanya prinsip dosa (1 Yohanes 1:8)

Yohanes mengalamatkan tulisannya kepada orang-orang percaya dengan maksud menasihatkan mengenai persekutuan mereka dengan Tuhan. Istilah Yunani koinonia, berarti “partisipasi, keikutsertaan,” dan yang kemudian diartikan “persekutuan, hubungan dekat atau akrab.” Dengan iman, orang-orang percaya mengambil bagian dalam kehidupanNya dan sifatNya untuk menjadi seperti Kristus. Dalam 1 Yohanes 2:1, 7 dan 12, Yohanes menyapa para pembacanya dengan sebutan, “anak-anakku,” dan “saudara-saudara yang kekasih.” Ia yakin mereka telah mengenal Tuhan dan dosa-dosa mereka telah diampuni, namun ia prihatin dengan persekutuan dan perjalanan hidup mereka sehari-hari dengan Tuhan.
Orang-orang percaya mungkin saja mengatakan memiliki persekutuan dengan Tuhan (1 Yohanes 1:6), namun kenyataannya mereka berjalan dalam kegelapan karena mereka tidak mau mengakui dan membereskan dosa mereka. Karena itu Yohanes ingin menunjukkan prinsip penting dalam memelihara persekutuan dan mengemukakan bukti-bukti adanya persekutuan yang sejati dengan Tuhan.
Mazmur 51:5 Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku.
Mazmur 58:3 Sejak lahir orang-orang fasik telah menyimpang, sejak dari kandungan pendusta-pendusta telah sesat.

Namun kita perlu memahami adanya perbedaan antara hubungan, yakni perihal menjadi anak Allah oleh kelahiran baru melalui iman kepada Kristus, dan persekutuan, kedekatan dengan Tuhan melalui iman. Dengan munculnya berbagai angin pengajaran menyesatkan yang memutarbalikkan Firman Tuhan, muncul pula orang-orang yang mengajarkan bahwa sebagai orang percaya, mereka tidak memiliki dosa lagi. Mereka bahkan mengatakan tidak memiliki lagi kecenderungan berbuat dosa dan sifat (kapasitas) berbuat dosa di dalam diri mereka. Dosa di sini berbentuk tunggal (singular) yang menunjukkan prinsip dosa warisan yang selalu cenderung terpusat kepada diri sendiri.8 Yohanes berkata bahwa orang-orang seperti itu hanya menipu diri mereka sendiri, namun pasti mereka tak dapat menipu Dia yang benar-benar mengenal keadaan mereka yang sebenarnya.

Kebalikan dari pandangan seperti ini adalah mengakui bahwa kita masih memiliki sifat dosa atau prinsip dosa di dalam diri kita. Memang kelahiran baru memberikan kita sifat baru, namun tidak membasmi sifat lama atau prinsip dosa yang masih bercokol di dalam kita. Kuasa dosa di dalam kita memang telah lumpuh sehingga kita tak harus diperhamba lagi olehnya., namun sifat dosa itu masih tetap ada. Memahami kebenaran ini dan mengakui kenyataan ini akan menolong kita untuk tetap waspada dan siuman sehingga kita akan termotivasi secara aktif untuk berupaya mengatasinya melalui iman kepada Kristus dan kasih karuniaNya. Mustahil kita dapat menaklukkan musuh kita apabila kita tidak mengetahui bahwa musuh itu ada.

Roma 6:4-11 Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru. Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya. Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa. Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa. Jadi jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya, bahwa kita akan hidup juga dengan Dia. Karena kita tahu, bahwa Kristus, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia. Sebab kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selama-lamanya, dan kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi Allah. Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus

Roma 7:14-21 Sebab kita tahu, bahwa hukum Taurat adalah rohani, tetapi aku bersifat daging, terjual di bawah kuasa dosa. Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat. Jadi jika aku perbuat apa yang tidak aku kehendaki, aku menyetujui, bahwa hukum Taurat itu baik. Kalau demikian bukan aku lagi yang memperbuatnya, tetapi dosa yang ada di dalam aku. Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat. Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku. Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku.

Galatia 5:17-21 Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging--karena keduanya bertentangan--sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki. Akan tetapi jikalau kamu memberi dirimu dipimpin oleh Roh, maka kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat. Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu--seperti yang telah kubuat dahulu--bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.

      Pengakuan dosa-dosa khusus atau dosa-dosa tertentu (1 Yohanes 1:9)

Dengan menyadari keberadaan sifat dosa ini dalam diri kita, akan mendorong kita untuk lebih siap dan waspada terhadap perbuatan dosa khusus atau tertentu yang kita harus akui kepada Allah dan berupaya membereskannya. Yohanes mengatakan, “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan” (1 Yohanes 1:9).
“Dosa” dalam ayat 9 ini berbentuk jamak (plural) – “dosa-dosa” dengan dibubuhi kata penunjuk artikel dalam bahasa Yunani, sedangkan dosa dalam ayat 8 berbentuk tunggal (singular) tanpa penunjuk artikel. Yohanes di sini menulis tentang perbuatan-perbuatan dosa tertentu. Karena itu kita tak boleh hanya sekedar meminta agar Tuhan mengampuni segala dosa kita. Mengucapkan doa pengakuan yang sangat umum seperti ini akan mengakibatkan tiga hal:

(1) Hal ini akan menggabungkan dosa-dosa secara umum sehingga kita tak perlu lagi menggubris dosa-dosa khusus dalam kehidupan kita.

(2) Hal ini merupakan cara menyembunyikan atau membiarkan dosa-dosa kita.

(3) Hal ini akan menghambat upaya penyelesaian dosa-dosa khusus dan akar penyebabnya berdasarkan ajaran-ajaran Kitab Suci.

Dalam bahasa Yunani istilah “mengakui” adalah kata kerja berbentuk sekarang yang berlangsung terus (present continuous tense) yang dikenal dengan sebutan “iterative present.” Mengaku di sini merupakan suatu tindakan yang harus terjadi terus-menerus dan berulang kali. Setiap kali kita menyadari akan sesuatu perbuatan dosa, pada saat itulah kita langsung mengakuinya sambil berserah kepada Roh Allah dan FirmanNya untuk memperoleh kuasa dalam menyelesaikan dosa itu dan berpegang teguh kepada pengampunan Allah.

Firman Tuhan berjanji bahwa Allah itu setia dan adil sehingga mau mengampuni dan menyucikan kita. Apabila kita dengan jujur mengakui dosa-dosa kita, Allah selalu setia mengampuni kita. Ia akan memulihkan persekutuan kita. Dosa memang selalu mendukakan Roh (Ef. 4:30) dan memadamkan kuasaNya (1 Tes. 5:19). Dosa itu mencerminkan ketidakrelaan kita untuk hidup dibawah kontrol Allah, merusak persekutuan dan menghambat perjalanan kita dengan Tuhan (bandingkan Yes. 59:1-2).
Efesus 4:30 Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.

1 Tesalonika 5:19 Janganlah padamkan Roh.

Yesaya 59:1-2 Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.
Meskipun Allah memiliki kesucian yang sempurna, namun Ia adalah adil dan selalu rela mengampuni dan memulihkan persekutuan berdasarkan Karya Kristus, Pembela kita, di atas salib, apabila kita mau mengakui dosa-dosa kita.

1 Yohanes 2:1-2 Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil. Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia.

Kita tentu saja hanya dapat mengakui dosa-dosa yang kita ketahui atau sadari, namun seperti dinyatakan dalam 1 Yohanes 1:8 dan 10 bahwa selama kita berada dalam kehidupan di dunia ini, kita tak pernah akan mencapai kesempurnaan atau hidup tanpa dosa. Selalu akan ada bidang dalam kehidupan kita yang memerlukan perubahan atau perbaikan. Dengan kata lain, akan selalu ada dosa-dosa yang tidak disadari. Namun janji Tuhan menyatakan bahwa sepanjang kita mau mengakui dosa-dosa yang kita ketahui atau sadari dan benar-benar bertekad untuk mau berjalan bersama Tuhan, Ia tidak hanya mengampuni dosa-dosa yang kita akui melainkan juga Ia akan menyucikan kita dari segala dosa (termasuk dosa-dosa yang tak disadari) sehingga persekutuan kita dengan Dia menjadi pulih.
Menyucikan dalam ayat ini menunjuk kepada proses transformasi (perubahan) yang terjadi melalui pengakuan itu karena melalui pengakuan itu menandakan kita mau mengupayakan penyelesaian dosa dan pemulihan.

Mazmur 32:5 Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: "Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku," dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku. Sela.

      Pengakuan akan adanya dosa (1 Yohanes 1:10)

Berjalan dalam persekutuan dengan Allah sama dengan berjalan dalam terang (1 Yohanes 1:7) dan hal ini juga berarti berjalan dalam terang Firman Allah. Alkitab diibaratkan seperti pedang dan pelita yang menerangi perjalanan kita (lihat Ibr. 4:12; Maz. 119:105, 130). Kedua gambaran ini (pedang dan pelita) menunjuk kepada kemampuan (kuasa) Kitab Suci dalam menyatakan dan mengekspos dosa dan perilaku kita yang telah mengecewakan Tuhan dan orang-orang lain.

Ibrani 4:12 Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.

Mazmur 119:105 Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.

Mazmur 119:130 Bila tersingkap, firman-firman-Mu memberi terang, memberi pengertian kepada orang-orang bodoh.

2 Timotius 3:16 Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.

Efesus 5:8-17 Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran, dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan. Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu. Sebab menyebutkan sajapun apa yang dibuat oleh mereka di tempat-tempat yang tersembunyi telah memalukan. Tetapi segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak, sebab semua yang nampak adalah terang. Itulah sebabnya dikatakan: "Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu." Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.

Namun ternyata sebagian orang menganggap diri mereka tidak pernah berbuat dosa lagi. Pertanyaan yang muncul adalah apakah ayat ini berarti mereka tidak pernah berbuat dosa lagi ataukah mereka telah berhenti dari kebiasaan berbuat dosa dan tidak lagi menjadikan perbuatan dosa sebagai perilaku kehidupan mereka. Menurut bentuk waktu (tense) 1 Yohanes 1:10 dalam bahasa Yunani (perfect tense yang menunjukkan tindakan lampau yang berakibat sekarang bagi pembicara) tampaknya mendukung pandangan kedua. Efek dari pandangan pertama hanya akan menjadikan peran Firman dan Roh Kudus dalam proses pengudusan orang percaya menjadi sesuatu yang tidak berguna.

    Tujuan Pengakuan

Ayat-ayat Kunci:

1 Yohanes 2:1 Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil.

Amsal 28:13-14 Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi. Berbahagialah orang yang senantiasa takut akan TUHAN, tetapi orang yang mengeraskan hatinya akan jatuh ke dalam malapetaka.

I Yohanes 2:1 memperjelas tujuan yang ada dalam pikiran Yohanes. Sebagaimana telah disebutkan, pengakuan itu bertujuan untuk menghentikan proses berbuat dosa. Pengakuan bermaksud agar kita membereskan dosa sehingga persekutuan kita dengan Tuhan menjadi pulih. Kesempatan untuk mengadakan pengakuan ini tak boleh dijadikan dalih untuk terus dapat berbuat dosa, misalnya dengan mengatakan, “Saya dapat berbuat dosa semau saya karena saya selalu dapat mengakui dosa itu.” Sikap seperti ini akan membawa beberapa akibat buruk bagi kita:

(1) Membuat kita memandang ringan dosa. Akibatnya kita sulit melihat konsekuensi-konsekuensinya yang jelek dan dahsyat terhadap kemuliaan Allah, terhadap kesaksian kita kepada orang-orang lain, terhadap pribadi kita sendiri, dan terhadap pahala-pahala kekal yang telah disediakan Allah bagi kita.

(2) Membuat kita tak melihat alasan perlunya pengakuan. Kita mengakui dosa untuk menghentikan perilaku berdosa dan untuk memulihkan kembali persekutuan dan kuasa Allah dalam diri kita. Dosa selalu mendukacitakan dan memadamkan kuasa Roh; namun pengakuan akan memulihkan persekutuan sehingga kita dapat berjalan dengan iman dalam kuasaNya.

(3) Membuat kita melalaikan tujuan Allah dalam merubah kita untuk menjadi serupa dengan gambar AnakNya. Kebahagiaan dan damai sejati tidak diperoleh melalui perilaku hidup berdosa, melainkan diperoleh melalui mengenal Kristus dan persekutuan yang akrab dengan Dia.

(4) Membuat kita melalaikan dan melupakan disiplin Allah.
Ibrani 12:5-11 Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: "Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak." Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang. Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup? Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya. Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya

Mazmur 32:1-5 Dari Daud. Nyanyian pengajaran. Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi! Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN, dan yang tidak berjiwa penipu! Selama aku berdiam diri, tulang-tulangku menjadi lesu karena aku mengeluh sepanjang hari; sebab siang malam tangan-Mu menekan aku dengan berat, sumsumku menjadi kering, seperti oleh teriknya musim panas. Sela Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: "Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku," dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku. Sela.

    Jalan Pendamaian bagi Dosa Kita

Ayat-ayat Kunci:

1 Yohanes 2:1-2 Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil. Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia

Roma 8:31-34 Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia? Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka? Siapakah yang akan menghukum mereka? Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita
Kendati tujuan pengajaran dalam 1 Yohanes ini adalah agar kita tidak berbuat dosa, namun pada kenyataannya kita masih berbuat dosa. Namun ketika kita berbuat dosa kita memiliki Yesus Kristus yang duduk di sebelah kanan Allah Bapa yang menjadi solusi sempurna bagi dosa kita. Perihal Kristus sebagai solusi sempurna kita dijelaskan melalui tiga gambaran berikut.

      Kristus adalah Pembela kita

Istilah parakletos dalam bahasa Yunani berarti “seseorang yang berdiri di sisi kita sebagai penolong, atau pendoa.” Meskipun ide “pembela” seperti halnya dalam sebuah pengadilan agak jarang digunakan,9 namun inilah makna yang terkandung dalam istilah ini, khususnya bila melihat ajaran Paulus dalam Roma 8:34. Sebagai pembela kita, apabila kita dituduh seseorang atau Setan (Wah. 12:10), Kristus akan membela kita dengan mempertegas pengampunan dan kedudukan kita sebagai orang yang telah dibenarkan di hadapan Allah berdasarkan kematianNya yang menggantikan kita dan menebus dosa kita (Rom. 8:34). Lukas 22:31-32 juga menggambarkan bagaimana kepembelaan Kristus ini berfungsi.

Roma 8:34 Siapakah yang akan menghukum mereka? Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita?

Wahyu 12:10 Dan aku mendengar suara yang nyaring di sorga berkata: "Sekarang telah tiba keselamatan dan kuasa dan pemerintahan Allah kita, dan kekuasaan Dia yang diurapi-Nya, karena telah dilemparkan ke bawah pendakwa saudara-saudara kita, yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita.”

Lukas 22:31-32 Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.

      Kristus adalah Benar dan Adil

Ini menegaskan tentang kualifikasi Kristus sebagai Penyelamat. Bahwa Kristus adalah Allah-Manusia (Allah sejati dan manusia sejati tanpa dosa) yang menggantikan kita, pembela kita, pendoa dan penolong kita.

      Kristus adalah Jalan Pendamaian bagi Dosa-Dosa Kita

Apabila orang percaya yang telah berbuat dosa ingin mengetahui dasar pengampunan Allah atau berpikir dosanya sudah terlalu besar dan terlalu buruk untuk mendapatkan pengampunan dari Allah, coba simak dengan baik pernyataan di bawah ini:
Sebegitu cukup pengorbanan Yesus Kristus bagi penebusan dosa kita sehingga khasiat karyaNya di atas salib itu menjangkau bukan hanya dosa-dosa orang-orang percaya, melainkan juga dosa-dosa seluruh dunia. Maksudnya Yohanes ingin menegaskan bahwa Kristus telah mati bagi semua manusia (lihat 2 Kor. 5:14-15, 19; Ibr. 2:9). Tentu saja ini tak berarti bahwa setiap orang pada akhirnya akan selamat, melainkan bahwa setiap orang yang mendengar Injil itu berkesempatan untuk menerima keselamatan bila ia menginginkannya (Wah. 22:17). Namun menurut konteksnya, tujuan Yohanes di sini ingin mengingatkan para pembacanya tentang jangkauan “korban penebusan” Kristus agar mereka tahu bahwa kepembelaanNya sebagai Pribadi yang Benar itu, konsisten dan telah menggenapi kekudusan Allah.10

    Jalan Kelepasan atas Dosa

Ayat-ayat Kunci:

1 Korintus 10:13 Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.

Mazmur 32:6-7 Sebab itu hendaklah setiap orang saleh berdoa kepada-Mu, selagi Engkau dapat ditemui; sesungguhnya pada waktu banjir besar terjadi, itu tidak melandanya. Engkaulah persembunyian bagiku, terhadap kesesakan Engkau menjaga aku, Engkau mengelilingi aku, sehingga aku luput dan bersorak. Sela

Roma 6:1-14 Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya? Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru. Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya. Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa. Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa. Jadi jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya, bahwa kita akan hidup juga dengan Dia. Karena kita tahu, bahwa Kristus, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia. Sebab kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selama-lamanya, dan kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi Allah. Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus. Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya. Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran. Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia..
Lihat juga Galatia 5:16-26; Efesus 5:15-20; Kolose 3:1-16.

Apabila kerinduan dan tujuan Allah dalam hal ini adalah agar orang percaya tidak berbuat dosa, bagaimanakah kita, sebagai orang-orang percaya, bisa menang atas dosa? Di sini kita akan menyimak perihal mengalami kemenangan Allah atas godaan, atas perilaku berdosa atau kebiasaan-kebiasaan berbuat dosa yang mendominasi yang sering menerpa kehidupan Kekristenan kita. Dengan munculnya berbagai godaan berbuat dosa, tentu kita ingin tahu bagaimana kita dapat menghadapi godaan-godaan dan menang atasnya. Dengan melihat banyaknya kegagalan yang dialami orang-orang percaya dalam menghadapi dosa, muncul pertanyaan apakah kita benar-benar dapat mengatasi kebiasaan-kebiasaan yang sering mencengkeram kehidupan kita? Berdasarkan kasih dan anugerah Allah, persatuan kita dengan Kristus, dan kuasa Roh Kudus, kita bisa mengatakan YA, kita bisa menang.

I Korintus 10:13 adalah ayat yang menjawab pertanyaan-pertanyaan yang menghantui ini. Di dalamnya berisi janji yang amat indah bagi kita. Ayat ini mengajarkan tiga unsur penting mengenai pencobaan (godaan) dan jalan dari Allah untuk beroleh kemenangan.

      Pencobaan Yang Biasa

Perkataan Paulus, “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia,” tidak boleh diartikan bahwa karena kita hanyalah manusia biasa yang tak lepas dari pencobaan, maka sebaiknya kita menyerah saja. Terkadang orang berdalih dengan mengatakan, ya, itulah keadaan saya yang sebenarnya sehingga ia tidak bisa menghindar dari pencobaan itu lalu jatuh ke dalam dosa. Ingat, Allah sedang bekerja untuk merubah kita dan perubahan itu adalah demi kebaikan kita. Allah sungguh sangat memperhatikan kita dan sedang bekerja demi kesejahteraan kita.
Namun juga di sini Rasul Paulus menegaskan bahwa bukan hanya kita yang menghadapi pencobaan. Kita tidak sendirian dalam peperangan melawan godaan dan dosa. Orang-orang lain juga mengalami hal yang sama dan telah berhasil dalam peperangan. Pencobaan merupakan hal yang biasa bagi semua manusia sehingga kita tidak berdalih dengan berkata bahwa problema atau pergumulan kita berbeda dengan orang lain. Kita akan terhibur bila kita sadar bahwa orang-orang lain juga menghadapi ujian dan pencobaan yang sama bahkan mungkin lebih berat dari kita dan mereka ternyata berhasil melewatinya dengan pertolongan kuasa Allah.

Ibrani 11:2-12 Sebab oleh imanlah telah diberikan kesaksian kepada nenek moyang kita. Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat. Karena iman Habel telah mempersembahkan kepada Allah korban yang lebih baik dari pada korban Kain. Dengan jalan itu ia memperoleh kesaksian kepadanya, bahwa ia benar, karena Allah berkenan akan persembahannya itu dan karena iman ia masih berbicara, sesudah ia mati. Karena iman Henokh terangkat, supaya ia tidak mengalami kematian, dan ia tidak ditemukan, karena Allah telah mengangkatnya. Sebab sebelum ia terangkat, ia memperoleh kesaksian, bahwa ia berkenan kepada Allah. Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia. Karena iman, maka Nuh--dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan--dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamatkan keluarganya; dan karena iman itu ia menghukum dunia, dan ia ditentukan untuk menerima kebenaran, sesuai dengan imannya. Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui. Karena iman ia diam di tanah yang dijanjikan itu seolah-olah di suatu tanah asing dan di situ ia tinggal di kemah dengan Ishak dan Yakub, yang turut menjadi ahli waris janji yang satu itu. Sebab ia menanti-nantikan kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah. Karena iman ia juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat, karena ia menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia. Itulah sebabnya, maka dari satu orang, malahan orang yang telah mati pucuk, terpancar keturunan besar, seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, yang tidak terhitung banyaknya.

Jadi di sini Paulus memperingatkan kita bahwa menghadapi pencobaan merupakan hal yang biasa. Kemudian Paulus menunjukkan dua hal lagi mengenai kesetiaan dan kemurahanNya bagi kita dalam menghadapi setiap pencobaan.

      Allah Mengendalikan Suasana Pencobaan

Allah tidak akan membiarkan kita dicobai melampaui batas kemampuan kita (1 Kor. 10:13-14). Ia mengetahui kelemahan, tingkat kedewasaan dan seluk beluk kehidupan kita setiap saat. Ia berjanji akan menolong kita dalam pencobaan yang melampaui kesanggupan kita. Di saat pencobaan menerpa, mungkin kita merasa tak sanggup menanggungnya lalu kita jatuh. Namun ingatlah, bila itu yang terjadi, penyebabnya bukan karena kita tidak dapat menanggungnya melainkan karena kita tidak mau. Ini terjadi mungkin karena kita meragukan pertolonganNya dan kuasaNya atau karena kita tak waspada atau tak berhati-hati dalam perjalanan kita dengan Allah setiap hari.

1 Korintus 10:13-14 Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya. Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, jauhilah penyembahan berhala!
Ayat ini juga mengajarkan bahwa ketika pencobaan atau ujian datang, asalkan kita tak meragukan pertolongan dan kuasa Tuhan, (a) kita akan dapat menanggungnya oleh kasih karunia Allah, dan (b) Allah, meskipun Ia tak pernah mencobai kita dengan dosa, mungkin mengizinkan itu terjadi menurut maksudNya sendiri. Dengan kata lain bahwa Allah mengendalikan pencobaan-pencobaan yang datang ke dalam kehidupan kita atas izinNya.

Yakobus 1:13 Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: "Pencobaan ini datang dari Allah!" Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun.
Ini tidak bermaksud agar kita menyerah saja dan melalaikan tanggung jawab kita dalam menghadapi pencobaan itu. Kitab Suci menunjukkan apa tugas kita ketika menghadapi pencobaan :

(1) Menjauhkan diri dari pencobaan. Perhatikan sikap Yusuf ketika digoda oleh istri Potifar sebagaimana dikisahkan dalam Kejadian 39:1-12.

1 Timotius 6:11 Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan.

2 Timotius 2:22 Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni.

(2) Berdoa ketika dicobai.
Matius 6:13 dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. (Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.)

(3) Kita tak boleh mencobai Tuhan. Kita mencobai Tuhan melalui ketidak percayaan kita, yaitu dengan tidak mempercayai kuasa dan pertolonganNya, dan dengan bersikap tak berjaga-jaga, tak waspada, atau tak mengindahkan nasihat dan peringatan Tuhan.
Ulangan 6:16 Janganlah kamu mencobai TUHAN, Allahmu, seperti kamu mencobai Dia di Masa.
Matius 4:6 lalu berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu."
(4) Jangan coba bermain-main dengan pencobaan. Kita tak boleh mencobai Tuhan dengan nyerempet-nyerempet bahaya atau bermain-main dengan api. Kita bisa terbakar.
Amsal 5:8 Jauhkanlah jalanmu dari pada dia, dan janganlah menghampiri pintu rumahnya,
Amsal 7:6-20 Karena ketika suatu waktu aku melihat-lihat, dari kisi-kisiku, dari jendela rumahku, kulihat di antara yang tak berpengalaman, kudapati di antara anak-anak muda seorang teruna yang tidak berakal budi, yang menyeberang dekat sudut jalan, lalu melangkah menuju rumah perempuan semacam itu, pada waktu senja, pada petang hari, di malam yang gelap. Maka datanglah menyongsong dia seorang perempuan, berpakaian sundal dengan hati licik; cerewet dan liat perempuan ini, kakinya tak dapat tenang di rumah, sebentar ia di jalan dan sebentar di lapangan, dekat setiap tikungan ia menghadang. Lalu dipegangnyalah orang teruna itu dan diciumnya, dengan muka tanpa malu berkatalah ia kepadanya: "Aku harus mempersembahkan korban keselamatan, dan pada hari ini telah kubayar nazarku itu. Itulah sebabnya aku keluar menyongsong engkau, untuk mencari engkau dan sekarang kudapatkan engkau. Telah kubentangkan permadani di atas tempat tidurku, kain lenan beraneka warna dari Mesir. Pembaringanku telah kutaburi dengan mur, gaharu dan kayu manis. Marilah kita memuaskan berahi hingga pagi hari, dan bersama-sama menikmati asmara. Karena suamiku tidak di rumah, ia sedang dalam perjalanan jauh, sekantong uang dibawanya, ia baru pulang menjelang bulan purnama."

      Allah Menyediakan Jalan Keluar Dari Pencobaan

1 Korintus 10:13 Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.

Ayat ini mengajarkan bahwa ketika kita berjalan dengan Tuhan dan mempercayai jalan keluar yang telah disediakanNya bagi kita, dan tidak mencobaiNya, Ia akan menyediakan jalan kelepasan bagi kita. Setiap pencobaan pasti ada jalan keluarnya. Tak ada pencobaan yang tidak dapat di atasi, kecuali bila kita sengaja menjerumuskan diri ke dalamnya atau tidak mau menjauhinya.
Perhatikan pula bahwa ayat ini menegaskan tentang adanya “jalan keluar” (kelepasan). Saya berpendapat bahwa ini merupakan peringatan tentang kecenderungan mencari solusi yang tidak alkitabiah dalam menghadapi pencobaan. Jalan keluar yang dimaksud di sini adalah melalui petunjuk-petunjuk Allah dalam FirmanNya dalam menghadapi setiap permasalahan hidup.

Mazmur 119:45 Aku hendak hidup dalam kelegaan, sebab aku mencari titah-titah-Mu.

Mazmur 119:133 Teguhkanlah langkahku oleh janji-Mu, dan janganlah segala kejahatan berkuasa atasku.

Mazmur 119:165 Besarlah ketenteraman pada orang-orang yang mencintai Taurat-Mu, tidak ada batu sandungan bagi mereka.

Amsal 3:5-6 Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.

Amsal 14:12 Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.

Istilah Yunani untuk “kelepasan” dalam ayat ini adalah ekbasis yang berarti “jalan keluar.” Istilah ini digunakan dua kali dalam Perjanjian Baru, yaitu dalam ayat ini dan Ibrani 13:5-7. Dalam surat Ibrani (khususnya ay. 7), istilah ini lebih terfokus kepada “hasil atau akibatnya.” Penggunaan atau makna ini juga ditemukan dalam tulisan-tulisan ekstra biblikal (di luar Alkitab). Hasilnya adalah perilaku yang saleh – keakraban persekutuan dengan Allah. Hal ini akan dialami seseorang yang mengutamakan Firman dan berjalan dengan iman bersama dengan Tuhan.

Sedangkan istilah ekbasis dalam 1 Korintus 10:13 agak lain maknanya. Dalam ayat ini, jalan kelepasan atau jalan keluar dari pencobaan bukan kelepasan tiba-tiba yang diperbuat Tuhan bagi kita, ibarat seseorang yang ditarik atau disentak keluar dari nyala api yang sedang membakarnya. Meskipun cara seperti ini bisa saja terjadi namun ini bukan arti utamanya. Pengertiannya tampak dalam perkataan “menanggung.” Yang dijanjikan Tuhan di sini bukan kelepasan tiba-tiba dari sesuatu pencobaan melainkan kemampuan dalam menanggungnya. Maksudnya, kemampuan menghadapi pencobaan itu tanpa berbuat dosa.

Sebagai kesimpulan, ada dua hal yang dikemukakan mengenai pencobaan yang menimpa kita:

(1) “Jalan keluar” menunjukkan sesuatu akibat atau hasil dari sesuatu tindakan. Yaitu akibat dari menerapkan prinsip-prinsip Firman Allah setiap hari. Tentu saja semakin kita bertumbuh dan lebih dekat dengan Tuhan, kemampuan kita dalam menghadapi ujian atau pencobaan akan semakin besar.

(2) “Jalan keluar” berarti kemampuan menghadapi atau menanggung pencobaan. Ini tak harus diartikan sebagai kelepasan total, meskipun kemampuan menghadapi pencobaan dapat berarti kemampuan untuk menghindari pencobaan secara bijaksana. Dan bila kita tak mampu menghadapinya maka sebaiknya kita menjauh dari pencobaan itu.

Pengertian ini dikuatkan oleh kata-kata terakhir dalam ayat ini yang menjelaskan arti dari ekbasis “jalan keluar” itu. Ayat ini diakhiri dengan perkataan “sehingga kamu dapat menanggungnya.” Kata-kata ini menunjukkan tujuan atau akibat. Jalan keluar disediakan Allah bagi kita akan memampukan kita menanggung pencobaan atau ujian tanpa berbuat dosa. Mungkin lebih tepat kata-kata ini menunjukkan pengertian jalan keluar itu, yaitu “kemampuan untuk menanggungnya.”11

Kita dapat mengartikannya sebagai “jalan menuju kelepasan, kemampuan untuk menanggungnya.” Pada akhirnya “jalan keluar” itu merupakan hasil atau akibat dari tindakan berjalan dengan Allah yang juga berarti kemampuan untuk menanggung atau mengatasi ujian atau pencobaan.

Allah, berdasarkan kasih karuniaNya yang telah memungkinkan kita masuk ke dalam persekutuan denganNya, memberikan kita kemampuan dalam menghadapi pencobaan. Tugas kita adalah memanfaatkannya atau menerapkannya ke dalam kehidupan kita.

    Kesimpulan Mengenai Jalan Keluar dari Allah

(1) Hidup berserah kepada kuasa Roh Kudus.

Galatia 5:16 Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging.
Roma 8:2-10 Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut. Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging, supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita, yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh. Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh. Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera. Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah. Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus. Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran.

(2) Hidup dalam FirmanNya.

Mazmur 119:9 Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu.

2 Timotius 2:16-17 Tetapi hindarilah omongan yang kosong dan yang tak suci yang hanya menambah kefasikan. Perkataan mereka menjalar seperti penyakit kanker. Di antara mereka termasuk Himeneus dan Filetus,

Ibrani 3:7-12 Sebab itu, seperti yang dikatakan Roh Kudus: "Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman pada waktu pencobaan di padang gurun, di mana nenek moyangmu mencobai Aku dengan jalan menguji Aku, sekalipun mereka melihat perbuatan-perbuatan-Ku, empat puluh tahun lamanya. Itulah sebabnya Aku murka kepada angkatan itu, dan berkata: Selalu mereka sesat hati, dan mereka tidak mengenal jalan-Ku, sehingga Aku bersumpah dalam murka-Ku: Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku." Waspadalah, hai saudara-saudara, supaya di antara kamu jangan terdapat seorang yang hatinya jahat dan yang tidak percaya oleh karena ia murtad dari Allah yang hidup.

Ibrani 4:12 Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.

(3) Memahami dan menerapkan kedudukan kita dalam Kristus.

Roma 6:1-14 Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya? Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru. Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya. Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa. Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa. Jadi jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya, bahwa kita akan hidup juga dengan Dia. Karena kita tahu, bahwa Kristus, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia. Sebab kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selama-lamanya, dan kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi Allah. Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus. Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya. Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran.

6:14 Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia..

(4) Menjauhi pencobaan.

1 Korintus 10:14 Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, jauhilah penyembahan berhala!.

1 Timotius 6:11 Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan.

2 Timotius 2:22 Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni.

Amsal 7:6-15 Karena ketika suatu waktu aku melihat-lihat, dari kisi-kisiku, dari jendela rumahku, kulihat di antara yang tak berpengalaman, kudapati di antara anak-anak muda seorang teruna yang tidak berakal budi, yang menyeberang dekat sudut jalan, lalu melangkah menuju rumah perempuan semacam itu, pada waktu senja, pada petang hari, di malam yang gelap. Maka datanglah menyongsong dia seorang perempuan, berpakaian sundal dengan hati licik; cerewet dan liat perempuan ini, kakinya tak dapat tenang di rumah, sebentar ia di jalan dan sebentar di lapangan, dekat setiap tikungan ia menghadang. Lalu dipegangnyalah orang teruna itu dan diciumnya, dengan muka tanpa malu berkatalah ia kepadanya: "Aku harus mempersembahkan korban keselamatan, dan pada hari ini telah kubayar nazarku itu. Itulah sebabnya aku keluar menyongsong engkau, untuk mencari engkau dan sekarang kudapatkan engkau

(5) Tekun berdoa dengan iman.

Matius 6:13 dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. (Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.)

Efesus 6:18 dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus.

Mazmur 119:33-38 Perlihatkanlah kepadaku, ya TUHAN, petunjuk ketetapan-ketetapan-Mu, aku hendak memegangnya sampai saat terakhir. Buatlah aku mengerti, maka aku akan memegang Taurat-Mu; aku hendak memeliharanya dengan segenap hati. Biarlah aku hidup menurut petunjuk perintah-perintah-Mu, sebab aku menyukainya. Condongkanlah hatiku kepada peringatan-peringatan-Mu, dan jangan kepada laba. Lalukanlah mataku dari pada melihat hal yang hampa, hidupkanlah aku dengan jalan-jalan yang Kautunjukkan! Teguhkanlah pada hamba-Mu ini janji-Mu, yang berlaku bagi orang yang takut kepada-Mu.
    (6) Mengendalikan pikiran — memperhatikan dan mengendalikan sikap dan cara berpikir kita berdasarkan terang Kitab Suci.
2 Korintus 10:3 Memang kami masih hidup di dunia, tetapi kami tidak berjuang secara duniawi,
Filipi 4:8 Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.

(7) Berjalan dengan siuman, sadar dan waspada.
1 Petrus 1:13 Sebab itu siapkanlah akal budimu, waspadalah dan letakkanlah pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus.

1 Petrus 4:7 Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.

1 Petrus 5:8 Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.

(8) Hidup oleh iman.

2 Korintus 5:7 --sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat--

Galatia 5:5 Sebab oleh Roh, dan karena iman, kita menantikan kebenaran yang kita harapkan..

Ibrani 4:1-2 Sebab itu, baiklah kita waspada, supaya jangan ada seorang di antara kamu yang dianggap ketinggalan, sekalipun janji akan masuk ke dalam perhentian-Nya masih berlaku. Karena kepada kita diberitakan juga kabar kesukaan sama seperti kepada mereka, tetapi firman pemberitaan itu tidak berguna bagi mereka, karena tidak bertumbuh bersama-sama oleh iman dengan mereka yang mendengarnya.

Ibrani 11:1-6 Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Sebab oleh imanlah telah diberikan kesaksian kepada nenek moyang kita. Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat. Karena iman Habel telah mempersembahkan kepada Allah korban yang lebih baik dari pada korban Kain. Dengan jalan itu ia memperoleh kesaksian kepadanya, bahwa ia benar, karena Allah berkenan akan persembahannya itu dan karena iman ia masih berbicara, sesudah ia mati. Karena iman Henokh terangkat, supaya ia tidak mengalami kematian, dan ia tidak ditemukan, karena Allah telah mengangkatnya. Sebab sebelum ia terangkat, ia memperoleh kesaksian, bahwa ia berkenan kepada Allah. Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.

(9) Mengutamakan pergaulan yang benar.

Ibrani 10:24-25 Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.

1 Korintus 15:33-34 Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik. Sadarlah kembali sebaik-baiknya dan jangan berbuat dosa lagi! Ada di antara kamu yang tidak mengenal Allah. Hal ini kukatakan, supaya kamu merasa malu

Mazmur 1:1 Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh!

Mazmur 119:63 Aku bersekutu dengan semua orang yang takut kepada-Mu, dan dengan orang-orang yang berpegang pada titah-titah-Mu.

(10) Menaruh pikiran Kristus: Pandangan, penilaian, prioritas dan upaya yang benar.

Matius 6:21-33 Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu. Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." "Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu..

2 Korintus 10:5 Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus.

1 Timotius 6:6-12 Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah. Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka. Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan. Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil dan telah engkau ikrarkan ikrar yang benar di depan banyak saksi..

(11) Senantiasa mempertimbangkan konsekuensi-konsekuensi: dosa selalu ada akibatnya – kita menuai apa yang kita tabur. 

Galatia 6:6-7 Dan baiklah dia, yang menerima pengajaran dalam Firman, membagi segala sesuatu yang ada padanya dengan orang yang memberikan pengajaran itu. Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya..
    Beberapa akibat dosa adalah: hilangnya persekutuan, mengakibatkan displin Allah, hilangnya pelayanan yang efektif, rusaknya hubungan, hilangnya pahala, dan yang terutama adalah mempermalukan nama Tuhan.

7 Charles C. Ryrie, Basic Theology, Victor Books, Wheaton, 1986, hal. 212.
8 J. R. W. Stott, The Epistles of John, An Introduction and Commentary, Eerdmans, Grand Rapids, 1964, hal. 76-77.
9 William F. Arndt dan F. Wilbur Gingrich, A Greek-English Lexicon of the New Testament and Other Early Christian Literature, Cambridge, University Press, 1960, hal. 623.
10 Zane Hodges, “1 John,” The Bible Knowledge Commentary, the New Testament Edition, Editor, John F. Walvoord dan Roy B. Zuck, Victor Books, Wheaton, 1983, hal. 887.
11 A. T. Robertson, A Grammar of the Greek New Testament in the Light of Historical Research, Broadman Press, Nashville, 1934, hal. 1087; James Hope Moulton, A Grammar of the New Testament Greek, Vol. 1, T. & T. Clark, Edinburgh, Third Ed., 1967, hal. 167.

Comments

Popular posts from this blog

Apa itu N1, N2, N3, PM1?

Kumpulan Renungan Pribadi dlm Kitab Mazmur

WASPADAH TERHADAP SIKAP HIDUP AHLI TAURAT